Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]


Perkembangan ilmu tauhid dalam sejarah kehidupan manusia
Ilmu tauhid adalah ilmu yang membicarakan tentang cara-cara menetapkan aqidah agama dengan mempergunakan dalil-dalil yang meyakinkan, baik berupa dalil naqli (al-quran), dalil aqli (ulama), dan dalil wijdani (perasaan halus).
Ilmu ini sebenarnya telah ada dan di pelajari pada masa nabi adam berada d bumi. Namun dalam pengembangannya dan pengaruhnya, ilmu ini berkembang pada beberapa masa. Diantaranya : masa rosulullah, masa khulafa rasyidin, masa bani abbas, dan masa sesudah sesudah bani abbas.
Ketika masa rosullulah, perkembangan aqidah ahlaq membutuhkan perjuangan yang begitu panjang. Cemoohan dan pertentangan dari kaum kuraisy yang menolak ajaran islam telah menimbulkan perjuangan yang besar. Namun dengan keteguhan dan kesabaran akhirnya sedikit demi sedikit umat islam semakin banyak dan akidah tauhid mulai di terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Perombakan kebiasaan umat kuraisy mulai di jalankan secara besar-besaran diantaranya pembatasan istri sebagaimana dalam al-quran surat : an-nisa ayat 4. namun Tentu saja umat kuraisy tidak begitu saja menerima secara ikhlas dan terbuka, mereka menolak dan menganggap bahwa nabi muhamad hanya mempersulit keadaan. Namun dengan kecerdasan, kelembutan, dan kebijaksanaan nabi muhamad akhirnya mereka menerima apa yang telah di perintahkan oleh Allah dan menyatakan bahwa mereka beriman kepada ALLAH dan mengikuti ajaran nabi muhamad.
 jaman nabi Muhammad pernah terjadi perselisihan pendapat di antara para sahabat, mereka memperdebatkan masalah qadar. Namun perselisihan itu berhenti ketika nabi muhamad berkata kepada mereka “apakah dengan ini kamu diperintahkan? Apakah dengan ini aku di utus? Aku tugaskan dirimu supaya kamu jangan berbantah-bantah pada qadar itu”. Dengan perkataan itu, akhirnya perdebatan antar sahabat terselesaikan dengan damai.
Permasalah-permasalah tentang akidah dan tauhid selalu terjawab secara jelas dan terang pada masa nabi muhamad karena setiap ada perbedaan atau pertentangan, rosulullah selalu turun tangan dan menjelaskannya secara benar dengan mengikuti pada firman ALLAH.
Setelah rosullulah wafat, masa khalifahan pertama abu bakar asyidik dan umar bin khatab, umat islam tidak sempat membahas dasar-dasar akidah, karena mereka sibuk thalib. Ustman bin apan.menghadapi musuh dan berusaha mempertahankan kesatuan dan persatuan umat.
Tidak pernah terjadi perbedaan dalam bidang akidah. Mereka membaca dan memahamkan al-quran tanpa mencari takwil bagi ayat-ayat yang mereka baca. Mereka mengikuti perintah al-quran dan mereka menjauhi larangannya. Mereka mensyifatkan ALLAH dengan apa yang ALLAH sifatkan sendiri, dan mereka mensyucikan ALLAh dari sifat-sifat yang tidak layak bagi keagungan ALLAH. Apabila mereka menghadapi ayat-ayat mutasyabihah, mereka mengimaninya dengan menyerahkan pentakmilannya (penafsirannya) kepada ALLAH sendiri.
Di masa khalifah ke tiga yaitu masa ustman bin affan terjadilah kekacauan politik yang diakhiri dengan terbunuhnya khalifah masa itu yaitu utsman sendiri yang terjadi di mesjid ketika ustman menunaikan shalat. Pada masa inilah terjadi pepecahan umat kepada beberapa golongan dan partai. Barulah masing-masing partai dan golongan-golongan itu berusaha mempertahankan pendiriannya masing-masing dan usahanya. Karena hal itu, terbukalah pintu takwil (penapsiran) bagi nash-nash (nasihat) al-quran dan hadis, dan terjadilah pembuatan riwayat-riwayat palsu. Karena hal itu, pembahasan mengenai akidah mulai subur dan berkembang. Sehingga permasalah yang muncul dari hari ke hari semakin besar dan meluas. Yang akhirnya menimbulkan komplik antar umat islam dalam penyelesaian masalah yang berkembang karena perbedaan pendapat.
Setelah kedaulatan islam mulai kendur, di mulailah pemikiran hukum agama dan dasar akidah, serta banyaknya pemeluk agama lain yang masuk islam. Namun, pemeluk ini masih menggunakan dasar agama sebelumnya sehingga lahirlah kebebasan berbicara tentang masalah yang belum pernah di bahas sebelumnya.
Munculah segolongan ulama yang merupakan tokoh-tokoh Qodarriyah yang pertama, seperti ma’bad al-juhani, ghailan ad-dimasyqi dan ja’ad ibn dirham yang mulai membelokan masalah qadar (takdir) dan masalah istihaah.
Para sahabat seperti Abdullah ibnu umar, jabir ibnu Abdullah, anas ibnu malik, ibnu abas, abu hurairah menentang mereka dan menganjurkan masyarakat supaya menjauhkan diri dari mereka, melarang memberi salam ketika bertemu mereka, melarang menengok salah satu dari mereka jika sakit, serta di larangnya menyembahyangkan jenazah mereka.
Selain itu, muncul juga orang-orang atau suatu kelompok yang meniadakan qodrat dan irodat (kemauan) dari orang muslim, supaya ALLAH tidak mempunyai sekutu dan menidiakan sifat-sifat-NYA.
Golongan ini dikendalikan oleh jaham ibn sofwan. Kelompok mereka bernama zabriah atau muzbaroh yang berkaitan dengan akidah yang mereka anut. Dan dikatan juga jahniah, yakni pengikut jaham ibn sofwan. Dan mereka juga di namakan muaththillah karena mereka meniadakan sifat-sifat ALLAH
Dan pada masa inilah permulaan dari penyusunan kitab pegangan ilmu kalam.
Dalam masa bani abbas, mulailah adanya gerakan ilmiah yaitu menterjemahkan kitab-kitab filsafah dari bahasa yunani, pada masa ini hubungan pergaulan antar bangsa-bangsa ajam dengan bangsa arab semakin erat sehingga berkembanglah ilmu dan kebudayaan.
Penguasa-penguasa bani abbas menggunakan orang-orang Persia yang telah memeluk islam, orang-orang yahudi dan nasrani sebagai pegawai negeri dan menggunakan mereka untuk menerjemahkan kitab-kitab yang di tulis dalam bahasa mereka ke dalam bahasa arab.
Para penterjemah ini berusaha mengembangkan pendapat mereka yang berpautan dengan agama, serta mengembangkannya dalam masyarakat muslimin, mereka menyembunyikan maksud buruk mereka dengan mengaku masuk islam. Sehingga aqidah yang di pegang umat muslim semakin kacau dan akhirnya muncul golongan yang jauh dari norma dan ajaran islam.
Mulai dari masa ini timbulah gerakan yang menggunakan filsafah dalam menetapkan akidah islamiyah, dan ilmu kalam dalam nuansa baru yang tidak pernah ada di masa rosul, sahabat, dan mulailah adanya kitab-kitab tentang ilmu kalam. Diantaranya :Amr ibn ubaid almu tazil menyusun sebuah kitab, menolak paham kodariah, Hisym ibn al-hakam assyisyafii menyusun sebuah kitab yang menolak paham mutazilah, dan abu hanifah yang mrenyusun sebuah kitab yang di namakan al-alim wal mutaalim dan kitab alfikhul akhbar untuk mempertahankan akidah ahli sunah.
Pada masa ini  banyak pertentangan karena akidah-akidah islamiyah selalu menggunakan falsafah dibandingkan dengan dalil dan tanpa adanya kemudahan yang telah di berikan agama islam.
Sesudah masa bani abbas datnglah pengikut al-asyari yang terlalu jauh menceburkan dirinya ke dalam falsafah dan mencampurkan mantiq. Kemudian mencampurkan semuanya dengan ilmu kalam seperti yang dilakukan oleh al baidhawa dan abudin. Pengaruhnya yang begitu kuat menjadikan golongan al-asyari berkembang pesat ke semua pelosok dan tidak ada yang menentangnya kecuali kelompok salaf.
Pada awal abad ke 8 H lahirlah di damaskus seorang ulama besar yaitu taqiyuddin ibn taimiyah yang menentang kelompok yang mencampuradukan prinsif falsafah ke dalam akidah islamiyah. Banyak kelompok yang menentang al-asyari selain kelompok salaf dan ibn taimiyah.
Penyimpangan aqidah dan tauhid yang telah berlangsung dari zaman dulu masih menjadi perselisihan pada zaman sekarang. Kini di Indonesia telah muncul beberapa kelompok yang seringkali berselisih paham tentang agama, namun tidak jarang pula beberapa kelompok malah menyimpang dari agama islam yang seharusnya. Namun intinya semua akidah, tauhid atau apapun yang berkaitan dalam agama harus kita landaskan dari al-quran yang tidak akan pernah tercampur oleh falsafah manusia yang telah membagi umat islam menjadi beberapa kelompok pada jaman dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]